<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HARISAHMAD &#187; dasimah</title>
	<atom:link href="http://www.harisahmad.com/tag/dasimah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.harisahmad.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 08:51:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Nyai Dasimah bag6 &#8211; selesai</title>
		<link>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag6-selesai/</link>
		<comments>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag6-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 04:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisAhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etnik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita betawi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita rakyat betawi]]></category>
		<category><![CDATA[dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[legenda betawi]]></category>
		<category><![CDATA[legenda nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[nyai dasimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.harisahmad.com/?p=2340</guid>
		<description><![CDATA[Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan belah tangannya. Kenangan indah ketika baru pertama menjadi isteri dengan Nyai Dasima lewat dimatanya bagaikan slide membuatnya menitikan air mata. Bang Puasa dan samiun berembuk sebentar untuk membuang mayat Nyai Dasima di kali Ciliwung, kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1943" title="bunga_20mawar_20merah.jpeg" src="http://www.harisahmad.com/wp-content/uploads/2009/12/bunga_20mawar_20merah.jpeg" alt="" width="91" height="132" />Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan belah tangannya. Kenangan indah ketika baru pertama menjadi isteri dengan Nyai Dasima lewat dimatanya bagaikan slide membuatnya menitikan air mata.</p>
<p>Bang Puasa dan samiun berembuk sebentar untuk membuang mayat Nyai Dasima di kali Ciliwung, kemudian melemparkannya ke kali Ciliwung.</p>
<p><span id="more-2340"></span></p>
<p>Si Kuntum yang berjalan bersama Bang Puasa dianeam bunuh bila membuka rahasia kematian Nyai Dasima. Sementara di seberang kali dibalik rerimbunan pohon, Musanip dan Ganip yang sedang memaneing menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dan keduanya ketakutan, bersembunyi agar tidak diketahui oleh Bang Puasa.</p>
<p>Isteri Musanip yang rumahnya berdekatan dengan peristiwa itu terjadi, sempat mendengar jeritan Nyai Dasima, dan mengintip melalui celah dinding bambu rumahnya, dan ketakutan akan diketahui oleh Bang Puasa.</p>
<p>Bangkai Nyai Dasima hanyut terbawa arus kali Ciliwung. Bangkai tersebut kemudian menyangkut di tangga tempat mandinya tuan Edward, orang yang pemah memeliharanya sebagai isteri piaraan. Tuan Edward sangat masgul, menangis melihat tubuh Nyai Dasima yang rusak. Tuan Edward segera melaporkan ke polisi tentang kematian Nyai Dasima. Di depan polisi tuan Edward mengakui bahwa Nyai Dasima adalah isterinya. Karena pengaduan tersebut polisi distrik Weltevreden menganggap hal ini sebagai persoalan serius yang bisa mengancam jiwa setiap orang Eropa khususnya Belanda. Polisi menerapkan cara mengadakan sayembara berhadiah 200 pasmat bagi siapa saja yang bisa memberikan keterangan akurat tentang Nyai Dasima, siapa yang menbunuhnya. Tergiur oleh jumlah uang, Kuntum, Musanip dan Ganip tak kuatir kemungkinan kemarahan Bang Puasa di kemudian hari. Mereka melaporkan kepada polisi tentang kejadian yang dilihat.<br />
&#8220;Jadi si Puase yang bunuh itu Madam Edward ?&#8221;<br />
&#8220;Betul, Tuan.&#8221;<br />
&#8220;Bagus, kamu orang pantas diberi hadiah nanti.&#8221;<br />
&#8220;Tapi kami takut, Tuan.&#8221;<br />
&#8220;Takut apa ?&#8221;<br />
&#8220;Takut ame Bang Puasa.&#8221;<br />
&#8220;Ne Kamu orang jangan takut</p>
<p>Atas dasar laporan tersebut, polisi menangkap Bang Puasa serta barang bukti golok yang belum sempat di bersihkan dari darah Nyai Dasima. Sedangkan Samiun melarikan diri dan tak kembali lagi ke Kwitang karena takut ditangkap, sebab dialah dalang yang menyewa Bang Puasa untuk membunuh Nyai Dasima.</p>
<p>Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004</p>
<p>Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta<br />
<h3 class='related_post_title'>Postingan Terkait:</h3>
<ul class='related_post'>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag5/' title='Nyai Dasimah bag5'>Nyai Dasimah bag5</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag3/' title='Nyai Dasimah bag3'>Nyai Dasimah bag3</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag2/' title='Nyai Dasimah bag2'>Nyai Dasimah bag2</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag4/' title='Nyai Dasimah bag4'>Nyai Dasimah bag4</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasima-bag1/' title='Nyai Dasimah bag1'>Nyai Dasimah bag1</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/legenda-betawi-%e2%80%93-si-jampang-bag-8-selesai/' title='Legenda Betawi – Si Jampang bag 8 Selesai'>Legenda Betawi – Si Jampang bag 8 Selesai</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag6-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyai Dasimah bag5</title>
		<link>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag5/</link>
		<comments>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 04:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisAhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gado Gado]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita rakyat betawi]]></category>
		<category><![CDATA[dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[legenda betawi]]></category>
		<category><![CDATA[legenda nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[nyai dasimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.harisahmad.com/?p=2313</guid>
		<description><![CDATA[Samiun dan Nyai Dasima pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugup. Ingin saja mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang manakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan. &#8220;Rangkulin pinggang aye Un.&#8221; pinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1943" title="bunga_20mawar_20merah.jpeg" src="http://www.harisahmad.com/wp-content/uploads/2009/12/bunga_20mawar_20merah.jpeg" alt="" width="91" height="132" />Samiun dan Nyai Dasima pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugup. Ingin saja mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang manakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan.</p>
<p>&#8220;Rangkulin pinggang aye Un.&#8221; pinta Nyai Dasima</p>
<p><span id="more-2313"></span></p>
<p>&#8220;Kayak orang baru demenan aje.&#8221; sahut Samiun, tetapi tangannya melingkar di pinggang Nyai Dasima. Samiun menghentikan langkah, Nyai Dasima ikut berhenti dan bertanya.</p>
<p>&#8220;Ade apa Bang Miun ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kite jalan sono aje.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pan jalan Ketapang lewat sini. &#8221;</p>
<p>&#8220;Abang kuatir kalo-kalo ada opas Belande, nanti kita bisa di tangkap, lagian tuan Edward pasti masih nyariin lu.&#8221;</p>
<p>Mereka menggunakan jalan lain, jalan setapak yang akan melewati sebuah kali dengan jembatan titian bambu. Di ujung tepian kali tempat menyeberang, Samiun melepaskan Nyai Dasima sendiri di belakang, bukannya menuntun tangan Nyai Dasima agar tidak terpeleset manakala<br />
menyeberang.</p>
<p>Nyai Dasima tertinggal di belakang dan memanggil Samiun tetapi Samiun meneruskan langkah untuk sampai ke tepian seberang kali. Dalam kesempatan itu, sebuah bayangan muncul. Bayangan seorang lelaki kekar dengan sigap memburu kearah Nyai Dasima : Sambil mengirimkan pukulan maut ke tengkuk Nyai Dasima. Pukulan itu meleset karena Nyai Dasima sempat melangkah sebelum tangan lelaki kekar itu mendarat, sehingga yang terkena bagian belakang tetapi sakitnya bukan main, Nyai Dasima menjerit memanggil samiun. samiun dengan tenang dan meneibir berkata,</p>
<p>&#8221; Ajallu udah sampe biarin, pasrahin aje diri lu.&#8221; Nyai Dasima berusaha lari untuk minta perlindungan pada samiun yang telah berdiri di seberang tepian kali, memang sudah naas bagi Nyai Dasima, sebuah pukulan keras yang keluar dari tangan seorang jagoan terkenal Bang Puasa, mendarat tepat pada posisi yang sensitif di bagian tengkorak kepala, dan Nyai Dasima rubuh bagai daun kering disapu badai gurun. Matanya sebelah kanan melotot, lidah terjulur keluar yang sebagian putus tergigit gigi yang merapat akibat tekanan dari atas, darah mengueur dari hidung dan mulut, Nyai Dasima rubuh, dan Bang Puasa menyongsong dengan golok tergenggam langsung menggorok leher Nyai Dasima. Tamatlah ajal Nyai Dasima yang disertai<br />
semburan darah yang keluar dari urat di lehemya.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Masih bersambung dikit lagi&#8230;..</strong></span></p>
<p>Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004<br />
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta<br />
<h3 class='related_post_title'>Postingan Terkait:</h3>
<ul class='related_post'>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag6-selesai/' title='Nyai Dasimah bag6 &#8211; selesai'>Nyai Dasimah bag6 &#8211; selesai</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag3/' title='Nyai Dasimah bag3'>Nyai Dasimah bag3</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag4/' title='Nyai Dasimah bag4'>Nyai Dasimah bag4</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag2/' title='Nyai Dasimah bag2'>Nyai Dasimah bag2</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasima-bag1/' title='Nyai Dasimah bag1'>Nyai Dasimah bag1</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/legenda-betawi-%e2%80%93-si-jampang-bag-8-selesai/' title='Legenda Betawi – Si Jampang bag 8 Selesai'>Legenda Betawi – Si Jampang bag 8 Selesai</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyai Dasimah bag4</title>
		<link>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag4/</link>
		<comments>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 01:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HarisAhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etnik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[legenda dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[legenda nyai dasimah]]></category>
		<category><![CDATA[nyai dasimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.harisahmad.com/?p=2287</guid>
		<description><![CDATA[Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan. Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap barn Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima. Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1943" title="bunga_20mawar_20merah.jpeg" src="http://www.harisahmad.com/wp-content/uploads/2009/12/bunga_20mawar_20merah.jpeg" alt="" width="91" height="132" />Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan. Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap barn Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima.</p>
<p>Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya membuat semangat Nyai Dasima tumbuh, serta hadir perasaan menyayangi kepada Samiun. Samiun mengajak Nyai Dasima ke kampung Ketapang untuk mendengarkan&#8217; pertunjukan seni tutur tentang Amir Hamzah.</p>
<p><span id="more-2287"></span></p>
<p>Nyai Dasima yang telah melimpahkan harapannya kepada Samiun langsung setuju dengan ajakan tersebut. Nyai Dasima berharap mungkin malam ini adalah malam terindah dengan Samiun, dapat berjalan dibawah sinar rembulan sambil bercengkerama menumpahkan perasaannya selama ini terkandas di dasar lautan kebencian Hayati dan Mak Soleha.</p>
<p>Nyai Dasima segera bersolek secantik mungkin dengan sisa bahan kecantikan yang dimilikinya. Mak Soleha menjadi jijik dan hampir saja meludahi muka Nyai Dasima, untung ada Samiun sehingga masih ada rasa segan pada sang anak. Mak Soleha memanggil Samiun dan berkata,<br />
&#8220;Un apa gue nggak saleh pandang ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada ape nyak ?&#8221;<br />
&#8220;Bukannye orang itu udah lu ceraiin ?&#8221;<br />
&#8220;Pan dulu nyak, sekarang pan laen.&#8221;<br />
&#8220;Laen apenye, apa elmu pelet ngebalik ame diri lu ?&#8221;<br />
&#8220;Lha bukan nyak.&#8221;</p>
<p>Mak Soleha menjadi aneh dengan perilaku Samiun, jangan-jangan ilmu pelet Samiun menjadi bumerang buat Samiun. Hayati yang mendengarkan laporan Mak Soleha kelihatannya acuh tak acuh. Hayati sendiri sudah hilang kesabaran atas janji Samiun yang akan memberikan harta yang banyak buatnya. Sekarang Hayati masa bodoh, tak ada gunanya berharap lagi, dan rasanya tak ada urusannya lagi dengan Nyai Dasima dan Samiun.<br />
&#8220;Ti&#8230; lu kok masa bodoh ?&#8221; tanya Mak Soleha keheranan.<br />
&#8220;Abis, mau diapain lagi, gua nggak percaya ame Samiun&#8221;.<br />
&#8220;Kalau Samiun jadi pergi dengan Nyai Dasima dan nggak balik lagi pegimane ?&#8221;.<br />
&#8220;Biarin, gue juga bisa cari lelaki laen.&#8221;<br />
&#8220;Astaghfirullah !&#8221;<br />
&#8220;Percuma nyak ngucap kalu niatnya nggak baek ame orang itu.&#8221;<br />
Mak Soleha menjadi kaget dengan pernyataan Hayati seakan menuding dirinya ikut dalam permainan kotor mendapatkan harta milik Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi bend dengan Hayati dan bertekad minta pada Samiun untuk menceraikan Hayati, biarlah dengan Nyai Dasima saja. Mak Soleha berubah pikiran dan menyesali sikapnya yang sempat membenci Nyai Dasima belakangan ini. Mak Soleha segera kembali ke rumahnya tetapi mendapati Samiun dan Nyai Dasima telah pergi.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Nyambung ye ceritenye&#8230;..</strong></span></p>
<p>Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004<br />
Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta<br />
<h3 class='related_post_title'>Postingan Terkait:</h3>
<ul class='related_post'>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag6-selesai/' title='Nyai Dasimah bag6 &#8211; selesai'>Nyai Dasimah bag6 &#8211; selesai</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag5/' title='Nyai Dasimah bag5'>Nyai Dasimah bag5</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasima-bag1/' title='Nyai Dasimah bag1'>Nyai Dasimah bag1</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag3/' title='Nyai Dasimah bag3'>Nyai Dasimah bag3</a></li>
<li><a href='http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag2/' title='Nyai Dasimah bag2'>Nyai Dasimah bag2</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.harisahmad.com/nyai-dasimah-bag4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

