Bila dicermati sadar ataupun tidak disadari, bagaimana kebudayaan dan adat istiadat cina terjelma dalam makanan, busana, bahasa, dan adat istiadat orang Betawi. Mungkin hanya ritual agama saja (hukum islam) orang betawi terbebas dari pengaruh orang cina. Sebab dalam pernak pernik perayaan keagamaan seperti lebaran, pengaruh cina sangat kuat terlihat.
Hingga pertengahan tahun 90-an, di kampung kampung yang dihuni oleh mayoritas orang betawi, sepanjang bulan ramadhan dan menjelang lebaran, suara petasan pastilah ada. Mungkin rasanya kurang afdol jika malam ramadhan dan malam takbiran tidak terdengar bunyi petasan dilangit jakarta.
Dan sentra pengrajin petasan yang ternama selama puluhan tahun adalah wilayah Parung, walaupun dalam hukum administrasi berada di wilayah Jawa Barat, namun secara kultural adalah Betawi. Pesatan petasan tersebut diproduksi oleh industri rumahan. Dan dari sanalah petasan kemudian beredar di hampir seluruh tanah Betawi.
Di alam perdagangan bebas saat ini, mereka harus bersaing dengan petasan asal cina daratan yang lebih inovatif dan beragam bentuk serta bunyinya. Tapi bagaimanapun Parung tetap dikenal dengan petasannya.
Saat hari lebaran, adalah sesuatu yang wajib bagi orang Betawi untuk membuat semur daging kebo (kerbau) yang menjadi pelengkap ketika menikmati ketupat dengan siraman sayur ketupat. Meski masakan semur berasal dari khasanah dapur orang Portugis, namun kecap datang dari khasanah dapur orang cina.
Bahkan pernah begitu dikenal merk Kecap Benteng yang dibuat orang Cina Benteng di Tangerang. Di rumah-rumah orang Betawi pada Hari Lebaran juga ada yang namanya kue satu, sebuah kue khas kaum cina peranakan yang telah menjadi bagian dari kue lebaran bagi orang Betawi. Manisan adalah jenis penganan lain yang menjadi hidangan Lebaran di rumah orang Betawi yang berasal dari khasanah orang cina. Adalah manisan pepaya, kolang kaling, manisan ceremai dan manisan buah pala yang menjadi hiasan meja di hari lebaran.
Pengaruh lain adalah diterimanya dodol cina sebagai penganan Lebaran orang Betawi, yang sesungguhnya merupakan kue utama pada perayaan tahun baru orang cina, sin tjia. Oleh kalangan Tionghoa, kue ini biasa disebut kue cina atau kue keranjang. Pengaruh cina memang kelewat banyak dalam kehidupan orang Betawi. Mulai dari seni musik hingga pakaian dan adat istiadat. Dalam hal busana, peran cina tercermin lewat baju koko, celana pangsi, kebaya encim, serta dandanan cara cina pada pengantin wanita Betawi.
Terdapat beragam bahasa cina yang kemudian diadaptasi menjadi istilah Betawi. Seperti toko, kuli, piso, kemoceng, cawan, kasut, lengkeng, tengteng, kwai, tahu, soto, toge, tokio, dan sawi. Jangan ragukan pula keberadaaan mi, bihun, suun, dan hun-kwee.
Dengan diterimanya makanan, busana, bahasa, dan adat-istiadat orang cina dalam kehidupan Betawi, rasanya sangat keterlaluan jika kita tetap menganggap mereka non-pribumi.
Secara pribadi dari kecil Ogut merasakan semua yang tergambar diatas. Di hari lebaran selain ketupat, ada semur kebo yang biasa dibeli di Pasar Palmerah. Ada manisan kolang kaling dan manisan pepaya di meja, serta manisan buah pala ikut menghiasi. Kue satu di toples dan dodol cina dalam irisan di piring. Baju koko dan tentunya petasan renceng mewarnai suasana.
Ditulis ulang, ref : http://bataviase.co.id/, harian wartakota
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H
Taqobalallahu minnaa wa minkum
Shiyamanaa wa shiyamakum
Minal ‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin


Posted in
Tags:
[...] Pengaruh kebudayaan dan adat istiadat cina pada orang orang betawi begitu melekat kuat. Salah satunya adalah petasan, yang menjadi ciri khas orang orang cina dan orang orang betawi hingga kini. [...]
ada” saja warga indonesia …. se- akan” sangat menghargai apa yg sudah Allah berikan …. smua yg da di bumi itu Allah bilang suruh di manfaatin sama makhluknya …. dan orang indonesialah yg sangat pandai …
hehehehehe